Revolusi Mental dan Spirit Emansipasi R.A. Kartini

Selamat hari Kartini, 21 April 2017. Hari yang spesial yang pastinya saat ini sedang dirayakan oleh banyak kalangan untuk menguatkan kembali semangat emansipasi wanita. Raden Adjeng Kartini terkenal sebagai tokoh emansipasi wanita pada jaman kolonial.

200px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776
https//:id.wikipedia.org/wiki/kartini

Raden Adjeng Kartini merupakan pahlawan revolusioner wanita dalam gerakan feminisme yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Sebagai penghormatan atas jasanya, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Seperti yang telah kita sering dengar pada masa kehidupan R.A. Kartini, seorang wanita dianggap kaum yang marjinal, terpinggirkan, berada dalam kuasa budaya paternalistik lelaki atau menjadi manusia kedua setelah laki-laki. Wanita tidak boleh mengenyam pendidikan yang tinggi, dan pasif hanya menunggu seorang lelaki melamarnya. Wanita dalam kebudayaan masa itu seringkali seakan-akan dipasung atau dibuat seperti bonsai, tidak boleh ke mana-mana dan terbatas dalam pengembangan kualitas diri. Kisah kepahlawanan R.A. Kartini yang revolusioner kini telah banyak dikisahkan di seluruh dunia dan bahkan dibuatkan filmnya. R.A. Kartini telah menjadi inspirator perjuangan khususnya kaum wanita. Gerakan kritis yang dilakukan Kartini, yang melakukan perlawanan terhadap budaya yang ada dengan berbagai hambatan budaya (cultural contrains) pada jaman itu, menjadi sebuah perhatian dan inspirasi untuk sebuah spirit emansipasi wanita. Citra Ibu Kita Kartini masih melekat hingga saat ini. Apakah makna yang bisa dipetik dari tokoh Ibu Kita Kartini pada era globalisasi, dan gejala posmodern ini? Tentunya sudah banyak sekali artikel yang terkait ini,  namun tulisan ini akan fokus pada perenungan konteks kekinian inspirasi atas citra Ibu Kita Kartini sebagai spirit wacana revolusi mental.  Kontekstual pemaknaan inspiratif terkait hal ini dengan harapan semuanya semakin terbangkitkan semangat untuk sebuah transformasi budaya dan revolusi mental ke arah yang semakin baik.

Jika pada masa Raden Adjeng Kartini berjuang untuk kaumnya pada masa itu, maka pada konteks kekinian, dalam ranah pembangunan bangsa, maka bisa terlihat perjuangan yang serupa tapi lebih luas yaitu revolusi mental. Tercantum di dalam buku Pedoman Umum Gerakan Revolusi Mental yang diterbitkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI disebutkan “Dalam konteks Indonesia istilah revolusi mental pertama kali dicetuskan Presiden RI pertama Soekarno dalam pidato kenegaraan memperingati proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1957. Revolusi mental ala Soekarno adalah semacam gerakan hidup baru untuk menggembleng  manusia Indonesia menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang Rajawali, dan berjiwa api”.  Revolusi mental semakin populer setelah Presiden RI, Bapak Jokowi menjadikannya jargon sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014. Berbagai perenungan ,ceramah, tulisan, diskusi, study circle dan pemaknaan tentang revolusi mental semakin menguat setelah tahun 2014 hingga saat ini. Refleksi yang terlihat adalah spirit persuasif untuk mengajak semua kaum atau kalangan untuk melihat ke dalam mental, mengubah mind set dengan cepat bertransformasi menuju lebih baik, kembali pada identitas budaya adiluhung. Tentunya dengan selalu melihat ke dalam (SAI: see always inside) dan bertransformasi menuju lebih baik secara terus menerus. Mari kita ingat kembali apa kata Jokowi terkait revolusi mental dan apa alasan teks ini dijadikan jargon tematik utama dalam ranah perjuangan menuju RI 1. Tentunya jargon revolusi mental dari Jokowi ini merupakan refleksi kritis dirinya sendiri dalam ranah perjuangan hidupnya hingga bisa menjadi presiden Republik Indonesia. Pernyataan Jokowi terkait ‘revolusi mental’ kini menjadi semakin nyata dalam sebuah Program Gerakan Revolusi Nasional Mental  dengan Delapan Prinsip Dasar Revolusi Mental (baca lebih lanjut pada revolusimental.go.id). Disebutkan dalam website revolusi mental ini  bahwa “Serangkaian FGD (Focus Group Discussion) di Jakarta, Aceh, dan Papua yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Revolusi Mental Rumah Transisi juga menggambarkan keresahan masyarakat tentang karakter bangsa.  FGD ini melibatkan 300 orang budayawan, seniman. perempuan, nitizen, kaum muda, pengusaha, birokrat, tokoh agama/adat, akademisi dan LSM. Kesimpulan  yang didapat adalah memang dibutuhkan perubahan mentalitas secara revolusioner karena ada gejala: (1) krisis nilai dan karakter, (2) krisis pemerintahan, dan (3) krisis relasi: gejala intoleransi. Mengingat berbagai hal yang masih tampak memerlukan transformasi dengan langkah segera inilah akhirnya ‘revolusi mental’ menjadi sebuah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik” (baca:revolusimental.go.id).

Perjuangan untuk kembali menuju identitas dan karakter bangsa yang mulia, yang memerdekakan setiap makhluk hidup,  memang memerlukan revolusi mental ataupun emansipasi. Emansipasi dengan spirit yang serupa dengan kisah perjuangan Raden Adjeng Kartini pada jamannya. Meminjam konsep emansipasi sosial dari Habermas yang menyebutkan bahwa ’emansipasi adalah proses pencerahan atas ketidaktahuan akibat dogmatisme pengetahuan’. Pengetahuan yang memerdekakan, gerakan memperjuangkan pengetahuan yang benar (emansipasi intelektual) segala entitas kemanusiaan termasuk semua alam berserta isinya. Menghancurkan kebodohan dan pembohongan akan dogmatisme pengetahuan yang licik yang melahirkan kesadaran palsu (pseudo consciousness).  Dalam hal ini perhatian utama akan pentingnya  praktik pendidikan spiritual (educare) sudah selayaknya mendapat prioritas yang paling utama. Jangan sampai dimarjinalisasi atau dipinggirkan seperti kedudukan kaum perempuan pada jaman R.A. Kartini. Dalam konteks kekinian emansipasi ataupun revolusi mental yang diperlukan menjadi multidimensi, tidak hanya dilakukan oleh satu tokoh revolusioner yang memperjuangkan kaumnya, namun dilakukan oleh semua pihak untuk semuanya dalam semangat unity in diversity.   Satu ranah yang  tampak menjadi sangat penting dalam menegakkan emasipasi dalam model ini adalah melalui proses pembentukan karakter (character building). Memprioritaskan program pendidikan spiritual ataupun pendidikan nilai-nilai kemanusiaan (education human values) yang universal. Tanpa pandangan fanatisme dan etnosentrisme tapi praktik spiritualitas yang universal serta bersinergi dengan budaya lokal (local genious). Ni Putu Eka SetiawatiSatu karya terkenal R.A Kartini yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang” merepresentasikan ranah transformasi menuju pencerahan atau terangnya cinta kasih. Modalitas untuk menuju terang adalah cinta kasih. Terkait ini dari sekian banyak kata mutiara yang Beliau tulis ada satu kata mutiara yang menunjukkan spirit cinta kasih dan jiwa multikulturalisme dari R.A. Kartini yang ditulis dalam suratnya kepada sahabatnya Ny. Abendanon di Belanda, tahun 1902 yaitu “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah kasih sayang, dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen, Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam?, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni….”.  Lebih dalam lagi pernah diberitakan juga dalam Kompas.com 21 April 2010 tentang “Siapa menyangka RA Kartini Vegetarian”,  tercantum dalam surat RA Kartini sendiri kepada sahabatnya, Ny R.M. Abendanon-Mandri, dan suaminya pada 27 Oktober 1902, saat itu RA Kartini berumur 23 Tahun. Keputusan untuk bervegetarian tentunya keputusan yang revolusioner pada masa itu. Kalimat yang manarik dalam surat R.A. Kartini itu adalah “Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi”. Inspirasi citra R.A Kartini bisa dijadikan tauladan untuk karakter kasih, terkhusus lagi akan perjuangannya untuk mengembangkan kualitas kaumnya. Kini telah banyak kita lihat wanita yang sudah berpendidikan tinggi dan beraktivitas dengan merdeka, berperan dalam berbagai pengabdian dan tetap bisa menjaga karakter keluarganya serta bebas dapat mengembangkan kualitas diri sebaik-baiknya.  Selamat hari Kartini semoga semakin banyak lahir Kartini-kartini Indonesia dan semuanya dalam keadaan berbahagia dengan spirit emansipasi dan revolusi mental dengan suasana cinta kasih tanpa pamerih.

Save

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s