Pendidikan Karakter Runtuhkan Budaya Kuasa dan Kekerasan Simbolik pada Anak

Selamat hari Pendidikan Nasional  2 Mei 2017. Saatnya secara kritis semakin menyadari akan pentingnya meruntuhkan budaya kuasa dan kekerasan simbolik dalam pendidikan. Pentingnya Transformasi pendidikan yang menumbuhkan kesadaran emansipatoris, mengembangkan bakat dan karakter untuk bisa menjadi tauladan. Konstruksi budaya untuk realitas pendidikan ideal seperti ini dapat diraih melalui pendidikan karakter.Sathya Hari Pendidikan

Walaupun hari pendidikan nasional  yang sama dirayakan setiap tahun sekali, ada baiknya selalu dapat dimaknai ulang secara kritis tentunya dalam konteks kekinian. Idealisme pendidikan kini berada di balik tantangan berbagai persoalan karakter manusia.  Hal ini tentunya sudah cukup sering dibahas terkait karakter yang sering berada pada isu sentral kenakalan remaja ataupun persoalan pendidikan dan pola asuh anak. Sering terdengar masalah pendidikan termasuk pola asuh orang tua yang akhirnya tidak terhindar dari kekerasan fisik dan kekerasan simbolik pada anak. Tentunya diperlukan penelitian yang mendalam terkait, apakah budaya kuasa dan kekerasan simbolik mempengaruhi karakter anak? Pastinya semuanya cenderung setuju bahwa pendidikan spiritual atau pendidikan karakter sangat penting peranannya dalam mengatasi masalah-masalah ini.

Jika dilihat dari kuantitas dan jenjang pendidikan pengajar atau guru dan dosen di Indonesia, tentunya kini sudah semakin maju, terbukti kini Guru minimal harus S1 dan Dosen minimal harus bergelar master dalam sebuah bidang keilmuan. Untuk seorang dosen wajib mengadakan riset dan pengabdian secara rutin selain mengajar. Sistem  Teknologi informasi sebagai penunjang pembelajaran seperti e-learning dengan Learning Managemant System berbasis IT sudah sangat maju dan semakin mudah diakses. Sumber belajar keilmuan yang kaya dan mudah didapatkan di era digital ini. Walaupun demikian tentunya aspek heroik ataupun etika dan moralitas menjadi perhatian yang dominan untuk selalu dijamin kualitasnya. Dalam hal ini pendidikan karakter atau pendidikan spiritual yang paling memiliki peranan.

Pada jaman kolonial, ketika masa-masa perjuangan dan perlawanan kepada penjajah untuk sebuah kemerdekaan cukup banyak terlahirkan pahlawan yang dijadikan tauladan dalam kehidupan masyarakat. Terkait hari pendidikan nasional tidak asing lagi satu tokoh pendidikan yang sangat terkenal bahkan namanya telah go internasional yaitu Ki Hadjar Dewantara.  Jika kita lihat dalam sejarah, tanggal 2 Mei adalah hari ulang tahun Beliau. Beliau lahir pada tanggal 2 Mai 1889 dan wafat 26 April 1959. Mari sedikit mengenang sebagian kecil kisah kepahlawanan, tauladan dan inspirasi atau ajarannya terutama dalam dunia pendidikan. Lebih dalam lagi hubungannya dengan pendidikan karakter.

Masih teringat pelajaran sejarah terkait Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang menumbuhkan rasa keadilan yaitu memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya priyayi maupun orang-orang Belanda. Ki Hadjar Dewantara mendirikan perguruan ini sebagai sebuah ekspresi perjuangan untuk mencerdaskan seluruh bangsa secara adil dan merata pada masa kolonial.

Perlu diapresiasi terkait karakter kerendahhatian dan jiwa yang konsisten Bapak pendidikan Indonesia ini. Hal ini tampak sebuah perjuangannya dalam ranah pendidikan yang menonjolkan konsep kebersamaan, keadilan dan kesamarataan dalam struktur  sosial. Satu contoh kecil terkait hal ini adalah Beliau cenderung tidak menggunakan gelar kebangsawanannya yaitu Raden Mas, bahkan akhirnya menghilangkan nama keningratannya tersebut. Nama asli Beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, kemudian sejak tahun 1922 diubahnya menjadi Ki Hadjar Dewantara.  Justru kini nama Ki Hadjar Dewantara begitu harum dan sarat dengan inspirasi. Hal ini dapat diambil sebuah makna akan kerendahan hati  dan Beliau melakukan ini untuk bisa benar-benar konsisten dalam konsep kebersamaan tanpa harus membeda-bedakan berdasarkan struktur ataupun stratifikasi sosial. Refleksi pada jaman sekarang, jika ada kecenderungan beberapa kalangan menonjolkan bahkan menjadi sebuah ranah perjuangan pencitraan menonjolkan nama-nama kebangsawanan tentunya menjadi bertitik tolak atau berlawanan dengan karakter Bapak pendidikan Indonesia ini.

Apakah pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara? pernah ditulis oleh Boetasono, dkk pada tahun 2014 bahwa pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah “daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran dan tubuh anak. bagian-bagian tersebut tidak boleh dipisahkan agar dapat memajukan kesempurnaan anak”. Ki Hadjar Dewantara  mengungkapkan bahwa pendidikan yang sesuai dengan kepribadian bangsa yaitu dengan sistem among. Hakim (2016:84) menjelaskan bahwa pendidikan among tersebut adalah sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Kekeluargaan mengandung arti bahwa guru dan dosen seharusnya mendidik dengan dasar kasih sayang  kepada sesama manusia, saling menghormati dan menghargai perbedaan, tolong menolong, gotong royong, serta menjunjung persatuan. Pendidikan harusnya bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan, yang artinya seorang guru ataupun dosen harus memberikan kebebasan bagi peserta didik sesuai dengan kodratnya.

Idealisme pendidikan seperti spirit Ki Hadjar Dewantara begitu indah, walau hingga saat ini masih saja terlihat adanya budaya kuasa dan kekerasan simbolik dominan mewarnai pendidikan pada sebuah kelas, sekolah, kampus ataupun dalam pola asuh orang tua terhadap anak. Tri sentra dalam pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat sudah semestinya selalu berada dalam spirit pendidikan spiritual atau pendidikan karakter. Sudah sepatutnya tiga ajaran Ki Hadjar Dewantara yang terkenal pernah dijabarkan Rahayu (2014:73) antara lain: (1) Tri sentra pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat; (2) Trilogi kepemimpinan ing  ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani; (3) Tri sakti jiwa yaitu cipta, rasa dan karsa; (4) Tri Nga yaitu ngerti, ngrasa, nglakoni dan (4) Tri N yaitu niteni, nirokke nambahi.  Semua konsep ini sarat dengan makna pendidikan karakter.

Sebagai perbandingan menarik untukEducare Earthday dibaca terkait ini adalah analisis Pierre Bourdieu seorang antropolog, cultural studies, sosiolog kultural dan etnolog yang mengkaji dinamika pendidikan di Prancis dan memperkenalkan konsep cultural reproduction pada awal 1970. Analisis Bourdieu ini melihat praktik pendidikan dalam masyarakat modern. Hidayat (2011) mengungkapkan dalam buku Pengantar Sosiologi Kurikulum mengungkapkan bahwa Bourdieu percaya bahwa sistem pendidikan selalu digunakan untuk mereproduksi budaya kelas dominan dalam rangka kelas dominan itu terus mengendalikan kekuasaannya. Bourdieu mengungkapkan terkait ketimpangan reproduksi struktural yang disebabkan oleh reproduksi budaya. Ketimpangan akan selalu muncul berdasarkan sistem pendidikan dan institusi sosial lainnya (baca reproduction theory). Martono (2012:45) mengungkapkan terkait sekolah sebagai arena terjadinya kekerasan simbolik, “Proses ini terjadi ketika siswa dari kelas bawah secara tidak sadar dipaksa untuk menerima semua habitus sekaligus kelas dominan melalui misalnya, berbagai peraturan sekolah yang hanya mengakomodasi habitus kelas dominan, memberi materi, baik melalui kurikulum formal maupun kurikulum tersembunyi yang -sekali lagi- tidak pernah disadari siswa kelas terdominasi”.

Hasil penelitian Pierre Bourdieu terkait kekerasan simbolik ini bisa dijadikan refleksi atau perenungan untuk semua kalangan yang terkait dengan pendidikan termasuk pola asuh orang tua kepada anak, kehidupan organisasi sosial dan perenting. Akankah inspirasi Ki Hadjar Dewantara terkait perjuangan persamaan tanpa ketimpangan dalam dunia pendidikan bisa terwujud hingga saat ini? Tentunya semuanya bisa menjawabnya dengan melihat realitas pendidikan dan realitas karaktar anak-anak saat ini.

Mengingat hal tersebut Pendidikan karakter atau pendidikan spiritual ataupun pendidikan nilai-nilai kemanusiaan menjadi begitu penting untuk semakin digalakkan. Kegiatan perenting yang berbasis pendidikan karakter dapat menjadi solusi untuk terwujudnya model pendidikan yang ideal seperti pernah diperjuangkan oleh Bapak pendidikan Indonesia. Terkait pendidikan karakter bisa dibaca lebih lanjut pada pendidikan spiritual.

Terkait meruntuhkan budaya kuasa dan kekerasan simbolik pada anak dengan pendidikan karakter atau pendidikan spiritual, terdapat  sebuah puisi yang sangat terkenal dan fenomenal yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte yang berjudul “Children Learn What They Live“. Puisi klasik ini pertama kali ditulis tahun 1954 pada koran Torrance Herald di Sounthern California. Dalam tulisan ini akan dicoba untuk menyajikan setiap bait puisi aslinya dan terjemahan bahasa Indonesianya.

  1. Jika anak dibesarkan dengan celaan, mereka belajar memaki  (If children live with criticism, they learn to condemn).
  2. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, mereka belajar berkelahi (If children live with hostility, they learn to fight).
  3. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, mereka belajar rendah diri (If children live with fear, they learn to be apprehensive).
  4. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, mereka belajar menyesali diri (If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves).
  5.  Jika anak hidup dengan ejekan, mereka belajar untuk merasa malu (If children live with ridicule, they learn to feel shy).
  6. Jika ada hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri (If children live with jealousy, they learn to feel envy).
  7. Jika anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah (If children live with shame, they learn to feel guilty).
  8. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, mereka belajar percaya diri (If children live with encouragement, they learn confidence).
  9. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, mereka belajar menahan diri (If children live with tolerance, they learn patience).
  10. Jika anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi (If children live with praise, they learn appreciation).
  11. Jika anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk mencintai (If children live with acceptance, they learn to love).
  12. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, mereka belajar menyenangi dirinya (If children live with approval, they learn to like themselves).
  13. Jika anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bahwa baik untuk memiliki tujuan (If children live with recognition, they learn it is good to have a goal).
  14. Jika anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kemurahan hati
    (If children live with sharing, they learn generosity).
  15. Jika anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar kebenaran sejati
    (If children live with honesty, they learn truthfulness).
  16. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, mereka belajar keadilan (If children live with fairness, they learn justice).
  17. Jika anak dibesarkan dengan pujian, mereka belajar menghargai (If children live with kindness and consideration, they learn respect).
  18. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, mereka belajar menaruh kepercayaan (If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them).
  19. Jika anak-anak hidup dengan persahabatan mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang indah untuk hidup (If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live).

Sembilan belas bait puisi karya Dorothy sarat dengan pendidikan karakter. Program perenting yang kreatif  menerjemahkan sembilan bait puisi ini dalam praktik untuk dan oleh masyarakat utamanya orangtua, keluarga, guru, dosen dan pengasuh anak,  seluruh agen / aktor dalam komponen sistem pendidikan maka sudah dipastikan anak-anak akan berkembang memiliki karakter yang baik dan tentunya terhindar dari budaya kuasa dan kekerasan simbolik.

Selamat hari pendidikan nasional semoga semua pendidik, baik mendidik anak, adik, keluarga, masyarakat dan seterusnya dapat mengisi pendidikan dengan baik dan sedapat mungkin menyadari jurang-jurang budaya kuasa dan kekerasan simbolik. Terimakasih telah membaca,  mohon saran dan kritik yang membangun untuk penyempurnaan tulisan ini, tentunya yang terpenting bukan tulisan ini tapi bagaimana inspirasinya bisa dipraktikkan untuk kehidupan yang semakin baik, Terimakasih.

Referensi:

Hakim, Andi (2016), “Meruntuhkan Budaya Kuasa dan Kekerasan pada Anak: Belajar dari Ki Hadjar Dewantara”. Jurnal Buana Gender-Vol 1 Nomor 1 Januari -Juni 2016.

Hidayat, Rakhmat, 2011. Pengantar Sosiologi Kurikulum. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Martono, Nanang. 2012. Kekerasan Simbolik di Sekolah Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Rahayu, Ayu (2015). “Penerapan Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Pembelajaran untuk membenttuk Peserta Didik Berkarakter Cerdas dan Berintegritas” Jurnal Edukasi Volume X September 2013.

baca lebih lanjut:

Educare

Pendidikan Spiritual

Save

Revolusi Mental dan Spirit Emansipasi R.A. Kartini

Selamat hari Kartini, 21 April 2017. Hari yang spesial yang pastinya saat ini sedang dirayakan oleh banyak kalangan untuk menguatkan kembali semangat emansipasi wanita. Raden Adjeng Kartini terkenal sebagai tokoh emansipasi wanita pada jaman kolonial.

200px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776
https//:id.wikipedia.org/wiki/kartini

Raden Adjeng Kartini merupakan pahlawan revolusioner wanita dalam gerakan feminisme yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Sebagai penghormatan atas jasanya, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Seperti yang telah kita sering dengar pada masa kehidupan R.A. Kartini, seorang wanita dianggap kaum yang marjinal, terpinggirkan, berada dalam kuasa budaya paternalistik lelaki atau menjadi manusia kedua setelah laki-laki. Wanita tidak boleh mengenyam pendidikan yang tinggi, dan pasif hanya menunggu seorang lelaki melamarnya. Wanita dalam kebudayaan masa itu seringkali seakan-akan dipasung atau dibuat seperti bonsai, tidak boleh ke mana-mana dan terbatas dalam pengembangan kualitas diri. Kisah kepahlawanan R.A. Kartini yang revolusioner kini telah banyak dikisahkan di seluruh dunia dan bahkan dibuatkan filmnya. R.A. Kartini telah menjadi inspirator perjuangan khususnya kaum wanita. Gerakan kritis yang dilakukan Kartini, yang melakukan perlawanan terhadap budaya yang ada dengan berbagai hambatan budaya (cultural contrains) pada jaman itu, menjadi sebuah perhatian dan inspirasi untuk sebuah spirit emansipasi wanita. Citra Ibu Kita Kartini masih melekat hingga saat ini. Apakah makna yang bisa dipetik dari tokoh Ibu Kita Kartini pada era globalisasi, dan gejala posmodern ini? Tentunya sudah banyak sekali artikel yang terkait ini,  namun tulisan ini akan fokus pada perenungan konteks kekinian inspirasi atas citra Ibu Kita Kartini sebagai spirit wacana revolusi mental.  Kontekstual pemaknaan inspiratif terkait hal ini dengan harapan semuanya semakin terbangkitkan semangat untuk sebuah transformasi budaya dan revolusi mental ke arah yang semakin baik.

Jika pada masa Raden Adjeng Kartini berjuang untuk kaumnya pada masa itu, maka pada konteks kekinian, dalam ranah pembangunan bangsa, maka bisa terlihat perjuangan yang serupa tapi lebih luas yaitu revolusi mental. Tercantum di dalam buku Pedoman Umum Gerakan Revolusi Mental yang diterbitkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI disebutkan “Dalam konteks Indonesia istilah revolusi mental pertama kali dicetuskan Presiden RI pertama Soekarno dalam pidato kenegaraan memperingati proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1957. Revolusi mental ala Soekarno adalah semacam gerakan hidup baru untuk menggembleng  manusia Indonesia menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang Rajawali, dan berjiwa api”.  Revolusi mental semakin populer setelah Presiden RI, Bapak Jokowi menjadikannya jargon sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014. Berbagai perenungan ,ceramah, tulisan, diskusi, study circle dan pemaknaan tentang revolusi mental semakin menguat setelah tahun 2014 hingga saat ini. Refleksi yang terlihat adalah spirit persuasif untuk mengajak semua kaum atau kalangan untuk melihat ke dalam mental, mengubah mind set dengan cepat bertransformasi menuju lebih baik, kembali pada identitas budaya adiluhung. Tentunya dengan selalu melihat ke dalam (SAI: see always inside) dan bertransformasi menuju lebih baik secara terus menerus. Mari kita ingat kembali apa kata Jokowi terkait revolusi mental dan apa alasan teks ini dijadikan jargon tematik utama dalam ranah perjuangan menuju RI 1. Tentunya jargon revolusi mental dari Jokowi ini merupakan refleksi kritis dirinya sendiri dalam ranah perjuangan hidupnya hingga bisa menjadi presiden Republik Indonesia. Pernyataan Jokowi terkait ‘revolusi mental’ kini menjadi semakin nyata dalam sebuah Program Gerakan Revolusi Nasional Mental  dengan Delapan Prinsip Dasar Revolusi Mental (baca lebih lanjut pada revolusimental.go.id). Disebutkan dalam website revolusi mental ini  bahwa “Serangkaian FGD (Focus Group Discussion) di Jakarta, Aceh, dan Papua yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Revolusi Mental Rumah Transisi juga menggambarkan keresahan masyarakat tentang karakter bangsa.  FGD ini melibatkan 300 orang budayawan, seniman. perempuan, nitizen, kaum muda, pengusaha, birokrat, tokoh agama/adat, akademisi dan LSM. Kesimpulan  yang didapat adalah memang dibutuhkan perubahan mentalitas secara revolusioner karena ada gejala: (1) krisis nilai dan karakter, (2) krisis pemerintahan, dan (3) krisis relasi: gejala intoleransi. Mengingat berbagai hal yang masih tampak memerlukan transformasi dengan langkah segera inilah akhirnya ‘revolusi mental’ menjadi sebuah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik” (baca:revolusimental.go.id).

Perjuangan untuk kembali menuju identitas dan karakter bangsa yang mulia, yang memerdekakan setiap makhluk hidup,  memang memerlukan revolusi mental ataupun emansipasi. Emansipasi dengan spirit yang serupa dengan kisah perjuangan Raden Adjeng Kartini pada jamannya. Meminjam konsep emansipasi sosial dari Habermas yang menyebutkan bahwa ’emansipasi adalah proses pencerahan atas ketidaktahuan akibat dogmatisme pengetahuan’. Pengetahuan yang memerdekakan, gerakan memperjuangkan pengetahuan yang benar (emansipasi intelektual) segala entitas kemanusiaan termasuk semua alam berserta isinya. Menghancurkan kebodohan dan pembohongan akan dogmatisme pengetahuan yang licik yang melahirkan kesadaran palsu (pseudo consciousness).  Dalam hal ini perhatian utama akan pentingnya  praktik pendidikan spiritual (educare) sudah selayaknya mendapat prioritas yang paling utama. Jangan sampai dimarjinalisasi atau dipinggirkan seperti kedudukan kaum perempuan pada jaman R.A. Kartini. Dalam konteks kekinian emansipasi ataupun revolusi mental yang diperlukan menjadi multidimensi, tidak hanya dilakukan oleh satu tokoh revolusioner yang memperjuangkan kaumnya, namun dilakukan oleh semua pihak untuk semuanya dalam semangat unity in diversity.   Satu ranah yang  tampak menjadi sangat penting dalam menegakkan emasipasi dalam model ini adalah melalui proses pembentukan karakter (character building). Memprioritaskan program pendidikan spiritual ataupun pendidikan nilai-nilai kemanusiaan (education human values) yang universal. Tanpa pandangan fanatisme dan etnosentrisme tapi praktik spiritualitas yang universal serta bersinergi dengan budaya lokal (local genious). Ni Putu Eka SetiawatiSatu karya terkenal R.A Kartini yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang” merepresentasikan ranah transformasi menuju pencerahan atau terangnya cinta kasih. Modalitas untuk menuju terang adalah cinta kasih. Terkait ini dari sekian banyak kata mutiara yang Beliau tulis ada satu kata mutiara yang menunjukkan spirit cinta kasih dan jiwa multikulturalisme dari R.A. Kartini yang ditulis dalam suratnya kepada sahabatnya Ny. Abendanon di Belanda, tahun 1902 yaitu “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah kasih sayang, dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen, Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam?, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni….”.  Lebih dalam lagi pernah diberitakan juga dalam Kompas.com 21 April 2010 tentang “Siapa menyangka RA Kartini Vegetarian”,  tercantum dalam surat RA Kartini sendiri kepada sahabatnya, Ny R.M. Abendanon-Mandri, dan suaminya pada 27 Oktober 1902, saat itu RA Kartini berumur 23 Tahun. Keputusan untuk bervegetarian tentunya keputusan yang revolusioner pada masa itu. Kalimat yang manarik dalam surat R.A. Kartini itu adalah “Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi”. Inspirasi citra R.A Kartini bisa dijadikan tauladan untuk karakter kasih, terkhusus lagi akan perjuangannya untuk mengembangkan kualitas kaumnya. Kini telah banyak kita lihat wanita yang sudah berpendidikan tinggi dan beraktivitas dengan merdeka, berperan dalam berbagai pengabdian dan tetap bisa menjaga karakter keluarganya serta bebas dapat mengembangkan kualitas diri sebaik-baiknya.  Selamat hari Kartini semoga semakin banyak lahir Kartini-kartini Indonesia dan semuanya dalam keadaan berbahagia dengan spirit emansipasi dan revolusi mental dengan suasana cinta kasih tanpa pamerih.

Save

Tujuh (7) Makna Simbolik Hari Raya Kuningan

Selamat hari raya Kuningan. Om Anu Badrah Kratavoyantu Visvanatah (semoga pikiran suci datang dari segala penjuru).

rama kuningan 2017 ok

Tulisan ini memfokuskan perhatian pada makna simbolik hari raya Kuningan. Seperti yang telah diketahui bahwa hari raya Galungan dan Kuningan merupakan satu rangkaian hari raya yang saling terkait dalam makna simboliknya. Untuk itu bagi yang belum membaca tulisan tentang Makna Spiritual Hari Raya Galungan, ada baiknya juga menelusurinya (klik di sini). Hari raya Galungan dan Kuningan merupakan sebuah rangkaian hari raya Hindu yang memiliki makna yang runut makna spiritual. Sadhana spiritual dalam konteks perayaan hari suci akan menjadi lebih sempurna jika dipahami secara mendalam berbagai makna yang tersirat atau tersurat dalam rangkaian acaranya. Tentunya telah cukup banyak interpretasi atau penafsiran terhadap hari raya ini dari berbagai referensi terkait. Tulisan kali ini menelusuri makna simbolik hari raya Kuningan. Bagi yang sudah mengetahuinya tentunya hal ini sebagai renungan ulang dan mohon kritik dan saran yang membangun untuk memperkaya pemahaman terhadap hari raya Kuningan ini (mohon mengisi ruang diskusi pada bagian comment di bawah tulisan ini). Apakah makna yang paling esensi dari hari raya Kuningan?, sebuah hari raya suci penting bagi umat Hindu yang dirayakan 10 hari setelah hari raya Galungan, dalam perhitungan kalender Bali-Jawa tepatnya pada Hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan. Jadi periode waktu sama dengan hari raya Galungan yaitu 210  hari sekali, enam bulan sekali (dengan perhitungan setiap bulan 35 hari, jadinya 35 x 6 = 210 hari sekali). Mari kita mulai membahas tujuh makna simbolik hari suci ini.

1. Makna Kuningan sebagai  ‘keuningan‘ proses mengetahui kemuliaan ‘Sang Diri’ dan introspeksi diri

Sadhana spiritual yang utama adalah mengenal sang diri sejati, memunculkan pertanyaan untuk diri sendiri, mengapa kita lahir ke dunia ini?, dengan tujuan apa? siapakah diri kita sesusunguhnya? apakah selama perjalanan hidup hingga saat ini kita sudah senantiasa menjalankan dharma dan mengetahui sang diri sejati? Berbagai pertanyaan untuk diri sendiri dan menjawabnya melalui proses perenungan di dalam diri hingga diketahui (keuningan), menjadi pengetahuan yang benar dengan tepat siapa diri kita sebenarnya adalah salah satu makna simbolik dari hari raya Kuningan. Kuningan juga edentik dengan warna “kuning’ yang melambangkan Dewa Mahadewa, ataupun yang memiliki arti kemakmuran, kemuliaan ataupun kemenangan. Simbolik ini juga terekspresi dari persembahan nasi kuning saat rahinan Kuningan. Kuning adalah warna logam yang paling mulia yaitu emas. Emas sebagai simbol kemuliaan dan keheningan untuk mendengarkan suara Tuhan (silent is Brahman). Seringkali dalam peribahasa diungkapkan “diam adalah emas” karena emas jika dijatuhkan ataupun dipukul dengan maksud disuarakan, nyaris tidak terdengar, jika dibandingkan dengan logam yang lain. Makna yang tersirat di sini adalah untuk selalu berkarakter mulia, hening menyadari sifat atau karakter Ketuhanan, serta selalu dekat dengan Tuhan, mendengarkan sekaligus mempraktikkan ajaran-Nya. Pada hari ini selain melakukan berbagai persembahan bhakti juga dilakukan upaya instrospeksi diri (dalam sumber sastra disebutkan ‘Kuningan ngaran sinungsungan sarira‘). Introspeksi diri dan proses transformasi kesadaran untuk semakin memenangkan karakter dharma dalam kontestasinya dengan adharma (pertarungan yang cenderung ada di dalam diri sendiri). Melalui proses instrospeksi diri maka kejernihan akan didapatkan, sehingga kebenaran dan kebajikan dapat semakin dominan mewarnai kehidupan.

2) Makna Kuningan sebagai ‘keuningan‘ atau pemberitahuan

Makna ini sering kali ditulis para budayawan dan agamawan khususnya Hindu. Mengutip ungkapan Bhagavan Dwija yang mengatakan bahwa Kuningan artinya ‘keuningan atau mengadakan janji/pemberitahuan/nguningang baik kepada diri sendiri maupun kepada Tuhan/ Ida Sang Hyang Widhi Waça, akan itikad bulat untuk selalu memenangkan dharma dan mengalahkan adharma (makna simbolik antara Bhuta Dungulan, Butha Galungan dan Butha Amangkurat)’. Mendengar kata janji mengingatkan kita pada tokoh dalam sejarah pada jaman kerajaan Majapahit, hingga terbentuk Indonesia yaitu Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa, ataupun tokoh besar India yaitu Mahatma Gandhi atas pendidikan spiritual yang tegas dan mulia dari ibunya sendiri, akhirnya bisa memunculkan  sumpah atau janji untuk senantiasa jujur. Sikap satya wacana atau konsistensi diri akan janji pada karakter kemuliaan ini membawa pada kemenangan dharma dan berbagai efek kemuliaan luar biasa lainnya.

3. Makna persiapan perang dalam lambang tamiang, ter, endongan, dan sampian gantung

Persiapan perang dalam konteks ini bukanlah perang fisik dengan persenjataan namun secara simbolik terdapat pada lambang-lambang ritual yang biasanya digunakan di hari raya Kuningan. Mari kita lihat berbagai perlengkapan yang biasa digunakan dalam rahinan Kuningan di areal rumah, merajan atau di pura-pura yaitu tamiang, ter, endongan, sampian gantung, dan persembahan lainnya. Bila dibahas satu persatu maka tampak makna simbolik persiapan perang atau pertahanan untuk selalu dalam jalan dharma dan sathya atau jalan kebajikan dan jalan kebenaran. Sathyam eva jayate (kebenaran pasti akan menang). rama endongan ok(1) Tamiang memiliki dua makna simbolik yaitu sebagai perlindungan atau pertahanan dari berbagai serangan. Tamiang juga memiliki makna sebagai perputaran waktu atau roda waktu yang terus berputar untuk mengungkap kebenaran. Memiliki karakter yang baik, selalu bersikap tenang, tanpa mengeluh, disiplin dengan menyadari perputaran roda waktu dan memiliki rasa bersyukur atau bhakti yang tinggi adalah senjata yang terbaik yang disimbolkan tamiang. Siapapun yang memiliki ini akan mengalami kesuksesan di dalam hidupnya. (2) Ter adalah simbol panah atau senjata. Makna simboliknya adalah untuk selalu siaga menggunakan modalitas di dalam diri manusia seperti pengetahuan, kebijaksanaan, pikiran, kecerdasan, perasaan, intuisi dan modalitas diri lainnya. Memasuki Abad ke-21, pada era globalisasi-digitalisasi, kini telah semakin nyata tampak konstruksi budaya siber atau dunia maya, yang sering dikonseptualisasi dalam konsep cyberspace bahkan dari banyak hasil penelitian telah melahirkan beberapa teori cyberculture. Hadirnya budaya baru ini maka telah tampak secara nyata tantangan baru yang harus dihadapi. Tamiang atau pertahanan diri sangat diperlukan  dan sudah semestinya ditingkatkan ke dalam segala ranah tantangan kehidupan kontemporer. Interaksi antara soul, pikiran, tubuh dan masin telah terjadi. Media, pengetahuan  dan kekuasaan menjadi relasi yang tidak terpisahkan. Praktik kebudayaan kekinian telah membutuhkan perjuangan ketahanan yang lebih kuat lagi dari berbagai dimensi baik dunia sekala, niskala maupun dunia maya. Pertahanan untuk selalu dalam kehidupan spiritual menjadi makna yang perlu digaris bawahi dalam hari raya Kuningan ini. (3) Endongan. Endongan adalah  simbol logistik. Berbagai perlengkapan dalam perang yang tentunya dalam konteks ini bermakna untuk selalu siaga melawan musuh dengan memperkuat ketahanan diri. Musuh yang dimaksud di sini adalah adharma atau ketidakbenaran, utamanya lagi untuk memerangi musuh-musuh yang ada di dalam diri sendiri. Educare atau pendidikan spiritual sangat penting dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memiliki perbekalan ini. Anak-anak dan remaja utamanya tentunya sangat penting untuk mendapatkan perbekalan pendidikan spiritual ini. Endongan yang utama adalah memiliki, bhakti dan jnana, serta karakter yang mulia. (4)  Sampian gantung merupakan makna simbolik dari penolak bala. Hal ini juga tersirat dalam makna peperangan untuk selalu siaga dengan menjaga vibrasi diri dan lingkungan yang baik selalu. Alam buana alit (microcosmos) dan alam buana agung (macrocosmos), kedua-duanya dalam kemurnian. Penolak bala yang dimaksud adalah untuk meletakkan komitmen diri untuk selalu menjaga dengan penuh kesadaran kelestarian karakter diri, lingkungan fisik, sosial dan budaya yang baik.

4. Makna persembahan rasa bhakti

Pada rahinan Kuningan dari pagi hari bahkan ada yang mulai pada dini hari melakukan berbagai persembahan sebagai wujud bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa ataupun dalam wujud manifestasi Beliau, Para Dewa-dewi, Ida Bhatara-bhatari Leluhur (Dewa Pitara) ataupun roh-roh suci. rama sujud bhaktiMakna persembahan pebekelan, aturan di pelinggih, biasanya seperti tebog, canang meraka, pesucian, canang burat wangi. Di pelinggih yang lebih kecil biasanya dengan persembahan nasi selangi, canang meraka, pesucian, dan canang burat wangi. Berbagai persembahan dilakukan dengan berbagai variasi berdasarkan tradisi yang berkembang berdasarkan desa, kala, patra. Dalam sumber sastra Sundarigama disebutkan ‘Saniscara Kliwon Kuningan tumurun wateki dewata kabeh mwang sang Dewa Pitara, asuci laksana…pakenanya ngening-ngening akna citta nirmala tan pegating samadhi…‘. Terjemahan bebasnya Sabtu Kliwon Kuningan saat ini hadir dengan rahmat-Nya para Dewata dan Roh-roh suci leluhur, sucikan perbuatan…selalu memurnikan diri, menyucikan pikiran tiada henti memusatkan pikiran pada Tuhan (samadhi). Berbagai kegiatan yang suci dan persembahan yang dilakukan memiliki makna simbolik sebagai wujud rasa bhakti dan puji syukur atas kehidupan ini, permohonan untuk selalu mendapatkan rahmat perlindungan dan keberhasilan dalam menegakkan jalan dharma atau cita-cita yang mulia untuk menyatu dengan Tuhan.

5. Makna kebersamaan atau solidaritas

Sama seperti hari raya Galungan, pada saat hari raya Kuningan juga dilaksanakan tradisi maturan keliling baik ke semua rumah miliknya atau melakukan aturan ke merajan-merajan/ sanggah-sanggah tua dan pura-pura dalam sistem kekerabatan (kinship system) ataupun ikatan desa pakraman, hal ini memiliki makna jalinan cinta kasih sosial atau solidaritas sosial dalam wujud rasa bhakti dan kebersamaan. Demikian pula dalam  dalam Manis Kuningan ada tradisi untuk saling mengunjungi kerabat ataupun melakukan kegiatan bersama, hal ini dapat memperkuat ikatan tali persaudaraan.

6. Makna disiplin dalam waktu terbaik

Selain simbol tamiang yang juga bermakna sebagai perputaran roda dunia atau roda waktu yang sangat disiplin bekerja demi keberlangsungan dunia dalam hukum alam semesta (rta), pada saat Kuningan waktu melakukan persembahyangan atau persembahan juga menggunakan perhitungan waktu yang baik (satwika). Persembahan ataupun persembahyang pada hari suci ini yang paling baik dilakukan mulai dini hari hingga pukul 12 siang. Hal ini mengandung makna simbolik kedisiplinan demi kesuksesan yang satwik. Kesuksesan yang satwik adalah kesuksesan yang didapat dalam perjuangan dengan memulai di waktu satwik seawal mungkin. Kesuksesan spiritual dalam sadhana spiritual harus dimulai dari sedini mungkin.  Terkait hal ini senada dengan  Sathya Sai Speaks ketika summer showers di Brindavan, 1977:189 kepada mahasiswa, terkait “start early, drive slowly, reach safety”.  “When the messengers of Yama come and tell you that your times is over and that your end has come, that you have to die; when your wife and children are weeping that you are at your very end, is it then possible for you to think of the lord? When you have entered your old age, after retirement  when the hands are trembling and when you have became old, is it possible for you to sit in prayer and ‘dhyana’? in order to follow the spiritual path and to be able to get some proficiency in the ‘adhyatmic’ way of life, this young age in the most appropriate age. It is in this context, it has been said, ‘Start early, drive slowly, reach safety’…”.  Dalam hal ini memang semua waktu adalah baik untuk memuja Tuhan, namun memulai sadhana spiritual lebih awal memiliki makna akan kesungguhan dan kedisiplin serta optimalisasi energi dan waktu. Konsep dalam Kuningan  terkait melakukan persembahyangan sebelum Sangyang Surya mesineb atau matahari mengarah ke barat memiliki makna simbolik yang dalam terkait energi alam semesta, energi surya atau matahari, satwika kala atau kekuatan kedisiplinan dan waktu (the power of discipline and times).

7. Makna wujud  syukur dalam tradisi lokal yang bervariasi

Berbagai rangkaian hari raya Kuningan (dan tentunya Galungan) juga dirayakan dengan berbagai tradisi yang bersifat lokalitas yang akan berbeda di setiap wilayah kebudayaan atau subculture. Sebagai contoh lokalitas budaya pada masyarakat di desa Munggu dengan melaksanakan tradisi ngerebeg pada rahinan Kuningan; terdapat juga tradisi menawat yang barangkali masih marak di desa-desa sampai saat ini yaitu mebalih anak ngaliwat. Ada juga di sebuah desa melaksanakan tradisi mamenjor atau beberongan. Jika diteliti lebih detail maka akan terdapat banyak sekali variasi tradisi lokal dalam rangkaian hari raya Kuningan ini. Makna simbolik yang terekspresi adalah wujud rasa syukur ataupun rasa bhakti yang tinggi kehadapan Ida Sang Hyang Widi Waça/ Tuhan Yang Maha Kuasa.

Demikian tujuh makna simbolik yang tersirat dalam hari raya Kuningan. Jika ditelurusi atau diteliti lebih dalam, bisa saja akan muncul lagi berbagai makna-makna baru. Representasi makna baru muncul mengingat konteks dinamika budaya kontemporer atau era kekinian dalam pelaksanaan hari raya Kuningan. Diskusi atau sathsang diperlukan untuk dapat memaknai dengan tepat setiap hari raya suci. Untuk itu silakan share dan mohon saran untuk penyempurnaan tulisan ini. Tidak ada gading yang tidak retak, walaupun masih banyak kekurangan dalam tulisan ini, semoga tulisan ini dapat berguna sebagai inspirasi ataupun bahan renungan di hari raya ini, selamat hari raya Kuningan, semoga selalu dalam keadaan bahagia dan sejahtera dalam rahmat_Nya, terimakasih.

Bacaan lanjut:

Makna Spiritual Hari Raya Galungan 

Sathyam eva jayate” Selamat hari Raya Galungan dan Kuningan, hari kemenangan dharma melawan adharma”

Hari Galungan dirayakan setiap enam bulan (210 hari) sekali dengan perhitungan kalender Bali-Jawa yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan. Hari raya Galungan dirayakan khususnya bagi orang Bali dan umumnya bagi seluruh umat Hindu Nusantara di manapun berada. Apakah makna spiritual hari raya suci yang biasanya ditunggu-tunggu oleh umat Hindu ini? Memaknai secara spiritual sebuah hari raya adalah sangat penting agar proses ritual bisa dilakukan dengan penuh makna spiritual, agar tidak  hanya terbelenggu dalam rutinitas atau kesibukan ritual yang mekanik tanpa makna atau proses perenungan spiritualitasnya.Makna spiritual merupakan representasi praksis kehidupan manusia dalam menghayati Tuhan ataupun kepercayaannya pada hakekat nilai kemanusiaan yang dimilikinya. Hal ini terkait dengan proses merefleksikan sang diri (self reflection) dalam konteks kekinian. Makna spiritual sangat terkait dengan konteks kebudayaan yang terangkai dalam rentetan acara hari raya yang saling terhubung secara simbolik. Prosesi acara ini dimulai dari Tumpek Pengatag (Tumpek Pengarah, Tumpek Pengunduh atau Tumpek Uduh; kemudian dilanjutkan dengan  Sugian (Sugian Jawa dan Sugian Bali); Penyajaan; Penampahan; Galungan, Manis Galungan dan lanjut rangkaian hari raya Kuningan.  Tulisan ini akan fokus pada makna hari suci Penampahan, Galungan dan Manis Galungan, tentunya dalam konteks kehidupan kontemporer.

1. Makna Spiritual Penampahan Galungan

Hari Penampahan Galungan memiliki makna spiritual “pengorbanan”, seperti yang telah diketahui kitab suci Veda demikian banyak mengungkapkan pentingnya makna ‘pengorbanan’ (sacrifice), bahkan ada disebutkan ‘bukannya dengan kekayaan, keturunan, ataupun ritual seseorang akan dapat mengalami kebebasan (liberation) namun hanya dengan spirit pengorbanan hal itu dapat diperoleh’. Apa yang harus dikorbankan? Tiada lain adalah ego, karakter buruk, sifat-sifat kebinatangan ataupun musuh-musuh yang ada di dalam diri manusia. Dalam Hindu disebutkan dengan mengorbankan sad ripu atau enam musuh di dalam diri manusia yaitu nafsu (kama), kemarahan (kroda), keserakahan (lobha), kebingungan ataupun kelekatan (moha), kesombongan ataupun kemabukan (mada), dan kedengkian ataupun iri hati (matsarya). Penampahan dirayakan sehari sebelum  Galungan tepatnya menurut penanggalan kalender Bali-Jawa yaitu pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan. Banyak yang mengartikan Penampahan berasal dari kata  tampah yang memiliki arti membunuh. Konsep tampah memiliki asosiasi makna dengan membunuh binatang yang merupakan makna simbolik membunuh sifat-sifat kebinatangan. Proses untuk membunuh atau mengorbankan sifat-sifat kebinatangan dan praktik transformasi  menuju karakter kedewataan inilah makna spiritual hari penampahan. Transformasi dari sifat kebinatangan menuju sifat ketuhanan inilah perjuangan dharma. Esensi yang sering masyarakat ungkapkan yaitu hari raya Galungan adalah hari suci untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma.

2. Makna Spiritual Hari Suci Galungan

Teks sastra yang terkait dengan makna spiritual hari raya Galungan adalah  Lontar Sundarigama. Dalam lontar ini disebutkan “Budha Kliwon Dunggulan ngaran Galungan patitis ikang jnana samadhi, galang apadang, maryakena sarwa byaparaning idep”,  terjemahan bebasnya akan menjadi Rabu Kliwon Dunggulan namanya hari raya Galungan,  laksanakan pengetahuan samadhi mengarahkan pikiran untuk bisa menyatu dengan Tuhan supaya mendapat pandangan yang terang untuk melenyapkan dan melawan segala kekacauan pikiran. Bertitik tolak dari lontar kuno sebagai dasar sastra (sastravadin) maka jelaslah makna spiritual hari raya Galungan adalah untuk memenangkan kebajikan (dharma) melawan ketidakbenaran (adharma). Pertarungan dharma melawan adharma ini berada di dalam diri manusia (cenderung selalu berkontestasi di dalam diri). Galungan adalah memenangkan sifat-sifat kebajikan di dalam diri. Berawal dari hari Penampahan Galungan yang makna spiritualnya pengorbanan atau membunuh sifat-sifat kebinatangan di dalam diri dan menumbuhkan karakter berkorban dengan tulus ikhlas tanpa pamrih, maka pada hari raya Galungan adalah perayaan ketika sifat kedewataan mendominasi di dalam diri manusia. Galungan adalah ketika segala kegiatan ritual yang dilakukan bukanlah rutinitas kesibukan padat yang mekanik namun dilakukan dengan pemahaman yang tepat akan makna spiritual (from ritual to spiritual). Berbagai ritual yang dilakukan adalah untuk mendapatkan kekuatan spiritual wiweka  yaitu untuk memiliki kemampuan yang tinggi dalam membedakan mana dorongan-dorongan kecenderungan yang tidak baik (adharma) dan mana yang berasal dari kesadaran murni kebajikan dan kebenaran (dharma dan sathya). Kegiatan spiritual Galungan dilakukan untuk mempertajam intusi dan suara batin (inner voice) untuk dapat mendengar suara Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Waça. Dengan kata lain ritual saat hari raya Galungan adalah kegiatan suci untuk  memiliki kemampuan untuk membedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewataan (dewa sampad). Lebih lanjut dalam Lontar Vrhaspatitatwa dijelaskan dengan sistematis bagaimana melaksanakan dharma yang terdiri atas tujuh nilai (values)  yaitu (1) sila (senantiasa berbuat baik dan benar); (2) yajña (iklas berkorban, termasuk mengembangkan kasih sayang dan tulus ikhlas tanpa pamrih; (3) tapa (pengekangan atau pengendalian diri); (4) dana (memberikan pertolongan atau bantuan kepada orang-orang miskin dan yang memerlukan bantuan. Dikenal juga dengan konsep seva memberikan pelayanan sosial bagi orang-orang yang membutuhkan dan melihat Tuhan ada pada diri orang miskin (Daridra Narayana); (5) Prawrija (mengembara menambah ilmu pengetahuan dan kerohanian atau pengetahuan spiritual); (6) diksa (penyucian diri); dan yoga (senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa). Praktik terhadap enam dharma ini dengan penuh kesadaran spiritual yang dilakukan setiap saat menjadi aspek disiplin spiritual yang dilakukan di atas berbagai ritual yang dilakukan. Segala rangkaian ritual dan pemujaan kepada roh-roh suci leluhur/Ida Bhatara-bhatara, Ida Sang Hyang Widhi Waça/Tuhan Yang Maha Kuasa pada hari raya Galungan selain untuk mewujudkan rasa puji syukur dan wujud bhakti kehadapan-Nya, hakikatnya adalah  untuk menegakkan praktik sanathana dharma. Sehari setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis Wuku Dungulan di sebut Manis Galungan yang bermakna untuk mengenang atau merasakan manisnya wujud rahmat Tuhan, yang didapat dari melaksanakan dharma tersebut dan berikhstiar untuk bisa mengaplikasikan tidak hanya saat hari raya semata, namun setiap saat.

Konteks kekinian dalam memaknai hari raya Galungan adalah dengan melihat tantangan jaman ketika modernisasi bahkan kini mengarah pada gejala posmodern, era digitalisasi dan cyberculture, tentunya tantangan untuk menegakkan sanathana dharma semakin besar. Pengaruh teknologi utamanya teknologi informasi (mediaspace) yang semakin terasa tidak tersaring. Tulisan seperti ini semoga bisa menjadi  inspirasi, media pencerah  yang paling tidak bisa kembali mengingatkan atau mengajak merenungkan lebih dalam akan pentingnya kembali pada nilai adilihung sanathana dharma yang menjadi spirit hari raya Galungan dan Kuningan. 210 hari sekali menjadi hari yang penuh makna untuk mengingatkan prinsip makna spritual hari raya Galungan yang sudah menjadi kewajiban untuk dipraktikan setiap saat. Selanjutnya tentunya pencarian makna yang detail dari setiap rangkaian ritual yang dilakukan sangat penting dilakukan. Teringat kritik membangun Clifford Geertz seorang antropolog yang setelah meneliti kebudayaan Bali menyebutkan “orang Bali sangat sibuk melaksanakan ritual yang terkadang tidak dapat mengerti makna sejati yang terkandung di dalamnya”. Namun ketekunan ini jika dilakukan dengan penuh pemahaman akan makna dan kesadaran spiritual tentunya akan menjadi modalitas yang luar biasa. Penegakan dharma adalah esensi spiritual rangkaian hari raya Galungan.

Reading more: