MAKNA SPIRITUAL HARI RAYA GALUNGAN

Sathyam eva jayate” Selamat merayakan hari suci Galungan dan Kuningan bagi Umat Hindu. yang sering kali dikenal sebagai “hari kemenangan dharma melawan adharma” Hari kemenangan kebenaran melawan ketidakbenara,n

“Dharmo Rakshati Rakshitah”
(Orang-orang yang menjalankan kebajikan akan dilindungi oleh kebajikan itu sendiri).

Perayaan Hari suci Galungan memiliki makna yang menarik. Hari suci Galungan  dirayakan dengan pelaksanaan tradisi ritual tertentu khususnya bagi orang Bali dan umumnya bagi seluruh umat Hindu Nusantara.Hari suci ini dirayakan setiap enam bulan (210 hari) sekali dengan perhitungan kalender Bali-Jawa yaitudisebutkan yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan. 

Apakah makna spiritual hari raya suci yang biasanya ditunggu-tunggu oleh umat Hindu ini?

Sebuah sistem makna tergantung subjektivitas penganut budaya tersebut, dalam model pemikiran ini tentu saja tidak ada makna tunggal. Makna terkonstruksi sedemikian rupa dalam perjalanan historis yang terus memiliki kemungkinan-kkemungkinan dinamisnya yang berbeda di setiap tempat (prinsip desa kala patra). Walau demikian tulisan ini akan mencoba menelusuri beberapa makna spiritual saja yang kiranya representatif, tanpa bermaksud menyatkan ini makna yang paling benar. Mengingat tentunya masih banyaknya relatif makna lainnya yang mungkin ada. Makna spiritual sebuah hari raya adalah sangat penting supaya proses ritual bisa dilakukan dengan penuh penghayatan, agar tidak hanya terbelenggu dalam rutinitas atau kesibukan ritual yang mekanik tanpa makna. Makna spiritual merupakan interpretasi manusia yang mendalam dalam menghayati totalitas dirinya dalam hubungannya dengan alam dan Sang Pencipta. Makna spiritual juga berarti proses dekonstruksi makna di balik makna secara terus menerus untuk mendapatkan esensi kebenaran yang hakiki hingga mendapatkan spirit atas segala praktik kehidupan. Pencarian makna spiritual sangat lekat dengan interaksi batiniah dengan Sang Pencipta. Hal ini terkait dengan proses merefleksikan sang diri (self reflection).

Makna spiritual dalam konteks ini sangat terkait dengan makna budaya yang terangkai dalam rentetan acara hari raya yang saling terhubung secara simbolik dalam tradisi yang telah dilakoni sekian lama. Umumnya prosesi acara Galungan ini dimulai dari Tumpek Pengatag (Tumpek Pengarah, Tumpek Pengunduh atau Tumpek Uduh; kemudian dilanjutkan dengan Sugian (Sugian Jawa dan Sugian Bali); Penyajaan; Penampahan; Galungan, Manis Galungan dan lanjut rangkaian hari raya KuninganTulisan ini akan fokus pada makna hari suci Penampahan, Galungan dan Manis Galungan, tentunya dalam konteks kehidupan kontemporer.

1. Makna Spiritual Penampahan Galungan

Hari Penampahan Galungan memiliki makna spiritual “pengorbanan”, seperti yang telah diketahui dalam kitab suci Veda demikian banyakmengungkapkan pentingnya makna ‘pengorbanan’ (sacrifice), demikian pula pentingnya penghayatan dan pemahamannya secara mendalam melalui proses belajar secara terus menerus. Disebutkan bahwa dengan pemahaman akan makna pengorbanan, maka kebebasan (liberation) dapat diperoleh’. Apa yang harus dikorbankan? Tiada lain adalah ego, karakter buruk, sifat-sifat kebinatangan ataupun musuh-musuh yang ada di dalam diri manusia. Dalam Hindu disebutkan dengan mengorbankan sad ripu atauenam musuh di dalam diri manusia yaitu nafsu (kama), kemarahan (kroda), keserakahan (lobha), kebingungan ataupun kelekatan (moha), kesombongan ataupun kemabukan (mada), dan kedengkian ataupun irihati(matsarya).

Penampahan dirayakan sehari sebelum Galungan tepatnya menurut penanggalan kalender Bali-Jawa yaitu pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan. Banyak yang mengartikan Penampahan berasal dari kata tampah yang memiliki arti membunuh. Konsep tampah memiliki asosiasi makna dengan membunuh binatang yang merupakan makna simbolik ataupun makna sesungguhnya adalah membunuh sifat-sifat kebinatangan di dalam diri.

Proses untuk membunuh atau mengorbankan sifat-sifat kebinatangan dan praktik transformasi menuju karakter kedewataan inilah makna spiritual hari penampahan. Terpenting disadari saat ini yaitu berbagai sifat kedewataan seperti penyayang/welas asih, penuh kedamaian, jujur, kebajikan, tanpa kekerasan, keramahtamahan, empati, bicara yang sopan dan penuh kasih, tanpa kebencian, serta semua habitus kebajikan ataupun karakter kemuliaan Ista Dewata semakin tumbuh di dalam diri. Transformasi dari sifat kebinatangan menuju sifat ketuhanan inilah perjuangan sebagai manusia di dalam dirinya (dimulai dari subjektivitasnya). Kemenangan dharma melawan adharma. Esensi yang sering masyarakat Hindu ungkapkan yaitu hari raya Galungan adalah hari suci untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma.

2. Makna Spiritual Hari Suci Galungan dan Manis Galungan

Teks sastra yang terkait dengan makna spiritual hari raya Galungan adalah Lontar Sundarigama. Dalam lontar ini disebutkan “Budha Kliwon Dunggulan ngaran Galungan patitis ikang jnana samadhi, galang apadang, maryakena sarwa byaparaning idep”, terjemahan bebasnya akan menjadi Rabu Kliwon Dunggulan namanya hari raya Galungan, laksanakan pengetahuan samadhi mengarahkan pikiran untuk bisa menyatu dengan Tuhan supaya mendapat pandangan yang terang untuk melenyapkan dan melawan segala kekacauan pikiran.

Bertitik tolak dari lontar kuno sebagai dasar sastra (sastravadin) maka jelaslah makna spiritual hari raya Galungan adalah untuk memenangkan kebajikan (dharma) melawan ketidakbenaran (adharma). Pertarungan dharma melawan adharma ini berada di dalam diri manusia (cenderung selalu berkontestasi di dalam diri). Galungan adalah memenangkan sifat-sifat kebajikan di dalam diri.

Berawal dari hari Penampahan Galungan yang makna spiritualnya pengorbanan atau membunuh sifat-sifat kebinatangan di dalam diri dan menumbuhkan karakter berkorban dengan tulus ikhlas tanpa pamrih, maka pada hari raya Galungan adalah perayaan ketika sifat kedewataan mendominasi di dalam diri manusia.

Galungan adalah ketika segala kegiatan ritual yang dilakukan bukanlah rutinitas kesibukan padat yang mekanik namun dilakukan dengan pemahaman yang tepat akan makna spiritual (from ritual to spiritual). Berbagai ritual yang dilakukan adalah untuk mendapatkan kekuatan spiritual wiweka yaitu untuk memiliki kemampuan yang tinggi dalam membedakan mana dorongan-dorongan kecenderungan yang tidak baik (adharma) dan mana yang berasal dari kesadaran murni kebajikan dan kebenaran (dharma dan sathya).

Kegiatan spiritual Galungan dilakukan untuk mempertajam intuisi dan suara batin (inner voice) untuk dapat mendengar suara Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Waça. Dengan kata lain ritual saat hari raya Galungan adalah kegiatan suci untuk memiliki kemampuan membedakan kecenderungan keraksasaan (asura sampad) dan kecenderungan kedewataan (dewa sampad).

Lebih lanjut dalam Lontar Vrhaspatitatwa dijelaskan dengan sistematis bagaimana melaksanakan dharma yang terdiri atas tujuh nilai (values) yaitu (1) sila (senantiasa berbuat baik dan benar); (2) yajña (ikhlas berkorban, termasuk mengembangkan kasih sayang dan tulus ikhlas tanpa pamrih; (3) tapa (pengekangan atau pengendalian diri); (4) dana (memberikan pertolongan atau bantuan kepada orang-orang miskin dan yang memerlukan bantuan. Dikenal juga dengan konsep seva memberikan pelayanan sosial bagi orang-orang yang membutuhkan dan melihat Tuhan ada pada diri orang miskin (Daridra Narayana); (5) Prawrija (mengembara menambah ilmu pengetahuan dan kerohanian atau pengetahuan spiritual); (6) diksa (penyucian diri); dan yoga (senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa).

Praktik terhadap enam dharma ini dengan penuh kesadaran spiritual yang dilakukan setiap saat menjadi aspek disiplin spiritual yang dilakukan di atas berbagai ritual yang dilakukan.

Segala rangkaian ritual dan pemujaan kepada roh-roh suci leluhur, Ida Bhatara-bhataraIda Sang Hyang Widhi Waça/Tuhan Yang Maha Kuasa pada hari raya Galungan selain untuk mewujudkan rasa puji syukur dan wujud bhakti kehadapan-Nya, hakikatnya adalah untuk menegakkan praktik dharma. Dengan praktik dharma kemenangan sejati akan didapatkan,  Dharmo Rakshati Rakshitah yang memiliki makna bahwa dharma itu sendiri yang akan melindungi orang-orang yang menjalankannya. Demikian juga dengan wacana sathyam eva jayate, kebenaran itu pasti akan menang.

Sehari setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis Wuku Dungulan di sebut Manis Galungan yang bermakna untuk mengenang atau merasakan manisnya wujud rahmat Tuhan, yang didapat dari melaksanakan dharma tersebut dan berikhstiar untuk bisa mengaplikasikan esensi hari suci ini tidak hanya saat hari raya semata, namun setiap saat, dalam waktu, tempat dan keadaan apapun.

Konteks kekinian dalam memaknai hari raya Galungan adalah dengan melihat tantangan jaman ketika modernisasi bahkan kini mengarah pada gejala posmodern, era digitalisasi, era globalsasi, dan cyberculture, tentunya tantangan untuk menegakkan sanathana dharma semakin besar. Pengaruh teknologi utamanya teknologi informasi, mediaspace, cybermedia yang semakin canggih dan sulit tersaring lagi. Tulisan seperti ini semoga bisa menjadi inspirasi, media pencerah yang bisa mengingatkan kembali ataupun mengajak merenungkan lebih dalam lagi tentang pentingnya menyadari dan mempraktikkan nilai adilihung tradisi sanathana dharma yang menjadi spirit hari raya Galungan dan Kuningan.

Hari suci Galungan yang dirayakan setiap 210 hari ini menjadi hari yang penuh makna untuk menumbuhkan spirit baru atau semangat praktik spiritual dalam kehidupan ini. Makna ataupun Tatwa dari setiap praktik ritual menjadi sangat penting dalam hal ini. Teringat kritik membangun Clifford Geertz seorang antropolog yang setelah meneliti kebudayaan Bali menyebutkan “orang Bali sangat sibuk melaksanakan ritual yang terkadang tidak dapat mengerti makna sejati yang terkandung di dalamnya”. Menyadari kritik ini sebagai sebuah cambuk kecil menuju sebuah kemajuan. Makna spiritual di balik ketekunan dalam praktik ritual tentunya akan menjadi modalitas yang luar biasa untuk kemajuan spiritualitas. Penegakkan dharma adalah esensi spiritual rangkaian hari raya Galungan.

Leave a Comment

error: Please cite with writing the source (ex: APA style)