Pendidikan bukan hanya soal memindahkan pengetahuan. Ia juga menjadi arena kekuasaan, tempat subjektivitas dibentuk dan nilai-nilai tertentu direproduksi. Dalam konteks ini, Educare bukan sekadar program pendidikan spiritual. Educare adalah sebuah wacana yang membentuk habitus, yaitu cara berpikir dan bertindak, agar individu menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam hidup sehari-hari. Educare menanamkan kasih sayang, kejujuran, kebajikan, kedamaian, dan tanpa kekerasan. Melalui nilai-nilai ini, Educare membentuk individu dalam jaringan kekuasaan tertentu. Namun, muncul pertanyaan: apakah nilai-nilai ini benar-benar universal? Ataukah sebenarnya nilai-nilai ini selalu dinegosiasikan dalam budaya yang terus berubah?

Program Educare
Di era postmodern, teknologi digital mempercepat arus informasi dan menciptakan realitas siber yang terpecah-pecah. Dalam situasi ini, pertanyaan tentang peran spiritualitas dalam pendidikan menjadi semakin penting. Pendidikan yang hanya mengejar aspek kognitif dan akademik sering melupakan sisi afektif dan etik. Padahal, di situlah inti dari pengalaman manusia. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memang menggarisbawahi pentingnya pendidikan dalam membentuk kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, dan kecerdasan. Namun, sejauh mana pendidikan saat ini benar-benar memerdekakan individu atau justru menjadikannya bagian dari mekanisme kontrol sosial yang hegemonik?
Pendidikan bukan hanya tentang pencapaian akademik, melainkan juga tentang emansipasi intelektual dan spiritual. Educare melihat pendidikan bukan sekadar memasukkan informasi dari luar, tetapi membangkitkan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah ada dalam diri individu. Dalam pandangan ini, Educare menjadi strategi pembebasan. Ia mendekonstruksi cara berpikir pendidikan formal yang sering mekanistik dan hanya berorientasi pada hasil. Selama ini, pendidikan banyak diarahkan pada produktivitas dan kapitalisasi pengetahuan. Educare justru mengajak kita merenung: bisakah pendidikan menjadi ruang untuk perubahan sosial yang sejati?
Dalam dunia yang semakin digital, manusia menghadapi paradoks. Teknologi membuka akses luas ke informasi, namun arus informasi yang tak terkendali justru bisa mengikis nilai kemanusiaan. Cyberspace kini menjadi arena di mana identitas, moralitas, dan spiritualitas terus dinegosiasikan. Di tengah situasi ini, Educare hadir bukan hanya sebagai pendidikan moral. Ia menjadi praktik kontra-hegemonik yang membentuk kesadaran kritis untuk menghadapi realitas digital yang penuh manipulasi dan simulasi.
Educare menantang dikotomi lama dalam pendidikan. “education” sebagai pengumpulan pengetahuan dari luar, dan “educare” sebagai upaya membangkitkan nilai kemanusiaan dari dalam diri. Narayana (2000, dalam SSSEHV Global Compendium, 2018:44) membagi pendidikan menjadi dua. Pertama, pendidikan duniawi yang bertumpu pada teks dan informasi. Kedua, Educare yang fokus menggali nilai-nilai laten dalam diri manusia. Pendidikan modern sering hanya menghasilkan individu yang terampil secara kognitif, tetapi kurang kaya dalam kebijaksanaan eksistensial. Educare menawarkan jalan berbeda: membantu individu tidak hanya tahu, tetapi juga menjadi.
Transformasi ini berlandaskan prinsip 5D dalam Educare. Pertama, Devotion (Bhakti) yang menghubungkan diri dengan dimensi transenden sebagai dasar etika. Kedua, Discipline (Disiplin) yang membentuk kebiasaan reflektif dan berkelanjutan. Ketiga, Duty (Kewajiban) yang menanamkan kesadaran bahwa kerja adalah bentuk ibadah, bukan sekadar aktivitas. Keempat, Discrimination (Kemampuan Memilah) yang mengembangkan kemampuan kritis dalam menyaring informasi dan mengelola keinginan. Terakhir, Determination (Keteguhan Hati) yang membangun kekuatan diri untuk mengatasi tantangan zaman.

Educare, sebagai bagian dari strategi pendidikan alternatif, mengkritik sistem pendidikan mainstream. Sistem ini cenderung mereduksi manusia menjadi sekadar entitas produktif bagi pasar. Dengan pendekatan yang menggabungkan bercerita, meditasi, bernyanyi spiritual, afirmasi nilai, aktivitas kelompok, dan seni. Educare berupaya membangun subjek yang lebih sadar akan makna keberadaannya. Educare bukan hanya sebuah program, tetapi sebuah wacana yang membuka ruang bagi pendidikan yang membebaskan, bukan sekadar mendisiplinkan.
Pada akhirnya, Educare bukan hanya tentang menemukan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri. Educare juga berfokus pada membongkar struktur kuasa dalam pendidikan. Dalam dunia yang terus berubah, pendidikan tidak boleh menjadi alat untuk mempertahankan status quo. Sebaliknya, pendidikan harus menjadi medan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan epistemik. Dengan demikian, Educare bukan hanya menawarkan pembelajaran, tetapi juga membuka ruang bagi subjektivitas yang merdeka, kritis, dan transformatif.

2 thoughts on “EDUCARE: WACANA PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN”